BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Hiromi Kano, Pesinden dari Jepang
Senin, 05-05-2008 | 04:00:00
ADA yang istimewa dari pentas seni wayang di Dome Balikpapan, Minggu (4/5) malam. Dalam acara yang diselenggarakan Pawiyatan Pametrti Budaya Jawa itu, ternyata salah satu pesinden adalah wanita Jepang. Hiromi Kano namanya.

Wanita 40 tahun yang sudah berada di Indonesia sejak tahun 1996 ini begitu serius menyelami seni karawitan dan gamelan. "Dulu di Jepang saya studi piano, khususnya musik barat klasik. Namun ketika studi di Indonesia, saya menemukan sesuatu yang berbeda pada gamelan. Selain musiknya menenangkan, juga memberi dampak pada pikiran karena nilai filosofinya yang tinggi. Akhirnya saya memutuskan mendalami karawitan," kata wanita berkaca mata ini.

Alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (sekarang ISI) ini juga sempat mengalami kesulitan mempelajari karawitan, walaupun telah mempelajarinya di Jepang sebelumnya. "Saya bahkan sempat duduk manis hampir setahun, lantaran memang sulit. Notasinya hanya berupa angka, dan harus dikembangkan dengan improvisasi cengkok. Itu sulit. Namun justru  kesulitan inilah yang membuat saya tertantang dan terus mempelajarinya. Akhirnya perlahan-lahan saya berkembang" ujar wanita yang fasih berbahasa Indonesia dan Jawa ini.    

Pada masa awal berada di Indonesia, Hiromi sempat belajar dengan seniman karawitan senior. "Guru awal saya Pak Tarman (Alm), Ibu Supadmi. (pesinden senior), dan Pak Sukamso," ujarnya. Hiromi menyatakan  jatuh cinta pada sinden karena terdapat nuansa yang dipandangnya istimewa. "Sinden bukan seperti vokalisasi dalam band, tapi memiliki  nuansa gaib tersendiri," ujarnya.

Dalam menjaga penampilannya, Hiromi ternyata punya kiat tersendiri. "Saya selalu membawa air minum yang saya rebus sendiri. Saya tidak minum air mineral kemasan karana terkadang membuat suara serak. Saya juga tidak minum es dan makan panganan pedas," ujarnya.

Hiromi juga memiliki pandangan tersendiri tentang kecintaan anak muda Indonesia terhadap kebudayaannya. "Anak muda Indonesia sebenarnya cinta budayanya, tapi cepat pula melupakannya. Kami di Jepang dulu pernah mengalami hal itu; meninggalkan budaya asli, namun memustuskan untuk kembali ke kebudayaan tersebut. Bangsa Jepang sangat bangga dengan budayanya," urainya.

Agar masyarakat Indonesia cinta budayanya, ia pun menyampaikan pesan. "Cobalah saksikan pentas budaya sekali saja! Cermati dengan baik. Pasti enak dan bisa dinikmati. Sikap untuk tidak mencoba kebudayaan bangsa sendiri hanya akan berujung kerugian," ujar wanita yang memutuskan menetap di Indoesia bersama suaminya ini. (kholish chered)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA