| Iklan baris Online | |
|---|---|
|
|
|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 1 day, 6 hours ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Prakiraan Cuaca | |||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||||||||||||||
| Data Pengujung |
|---|
|
IP 38.103.63.17 Browser Operating System |
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Gaya Hidup Hijau untuk Selamatkan Bumi |
| Minggu, 20-04-2008 | 04:00:00 | |
|
TAS itu bentuknya hanya segiempat biasa. Tidak mahal dibandingkan dengan tas-tas branded yang beredar di pasaran baik yang original maupun kelas KW sekalipun. Bahannya bukan kulit tapi plastik. Bukan sembarang plastik tetapi plastik bekas cairan pelembut dan pewangi pakaian.
Merek produk masih terlihat di plastik bekas yang telah dibuat menjadi sebuah tas. Wangi harum cairan pelembut dan pewangi pakaian itu masih tercium. Tapi, tas itu tetap saja dari plastik bekas. "Kenapa harus malu?" begitu kata Hayati Indarto. ISTRI Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Timur itu menggunakan tas dari bahan plastik bekas sebagai tas kerjanya. Bukan hanya satu dua hari ini saja Hayati memakainya. Tapi, Hayati telah memakainya sejak dua tahun yang lalu. Bukan hanya tas, Hayati juga mengoleksi beberapa produk recycle lainnya. Kenapa harus recycle? Lain halnya dengan Ketua Ketua Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) regional Kalimantan Widodo W Sambodo. Ia dan keluarganya juga memilih untuk mengurangi sampah plastik dengan menolak menggunakan kantong plastik setiap berbelanja. Meski anak-anak Widodo juga harus berkelahi mulut dengan satpam atau pramuniaga. Tapi, begitulah kiat Widodo demi mengurangi sampah plastik. Reduce, kenapa harus reduce? Di antara reduce, dan recycle masih ada reuse. Prinsip 3R ini, reduce, reuse, dan recycle harus segera dimulai untuk menekan laju pemanasan global. "Bumi semakin panas, jangan cuma kipas- kipas," begitulah kutipan dari buku bergaya hidup hijau yang diterbitkan Kementrian Lingkungan Hidup menjelang konvensi perubahan iklim di Denpasar, Bali. Manusia memang tidak boleh hanya sibuk kipas-kipas atau membeli air conditioning untuk melawan panas karena tanpa sadar gaya hidup yang dianut sekarang, tidak ramah lingkungan dan bahkan menjadi kontributor perusak lingkungan. "Perubahan gaya hidup masyarakat baik di tingkat primer, sekunder, hingga tersier berubah seiring dengan perkembangan zaman. Dari kehidupan masyarakat yang agraris menjadi industri," kata Widodo. Perubahan gaya hidup ini juga dipengaruhi kapitalisme yang berkembang pesat dengan aneka produk industri mulai dari makanan sampai fesyen. "Dari parfum saja. Sekarang banyak beredar pewangi yang berbentuk spray yang menggunakan aerosol. Setiap satu semprot, menjadi kontributor penipisan lapisan ozon. Bukan hanya parfum, tapi juga pengusir nyamuk. Belum lagi penggunaan plastik. Padahal dulu berbelanja ke pasar, menggunakan keranjang. Plastik sangat sulit diurai dan memerlukan waktu yang sangat lama," katanya. Tanpa sadar gaya hidup konsumtif bukan sekadar menghamburkan uang sekaligus merusak bumi. Hanya ada satu bumi, dan sebaiknya segera memulai gaya hidup hijau untuk menjaga bumi tetap nyaman. Jangan cuek. (cpk) Kembali ke Alam PERINGATAN hari Bumi digelar setiap tanggal 22 April. Tetapi, bergaya hidup hijau tidak perlu menunggu dua hari lagi bukan? Apalagi harus menunggu orang lain. "Semuanya harus dimulai dari diri sendiri dan dari lingkungan yang terkecil. Dari setiap keluarga," kata Widodo D Sambodo, Ketua Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) regional Kalimantan. "Konsep back to nature harus mulai dikembangkan dan dijalankan," katanya. Bukan hanya di tingkat keluarga, PPLH telah menggandeng sekolah dan kalangan industri untuk ikut memperhatikan kelestarian lingkungan. "Di sekolah, ada pandidikan lingkungan. Mulai dari penyediaan tempat sampah yang terpisah. Penilaian terhadap kualitas sekolah juga dilakukan hingga kualitas makanan yang tersedia di kantin," kata Parus, Kepala Sub Bidang Peningkatan Kapasitas, PPLH regional Kalimantan. aktivitas perkantoran pun dapat dilakukan dengan ramah lingkungan. Mulai dari reduce dan reuse kertas, hingga penghematan listrik. Kesadaran ini harus dimiliki konsumen sehingga pada akhirnya industri tentunya akan menyediakan produk yang ramah lingkungan sesuai keinginan konsumen. "Menjadi green konsumen itu yang perlu," kata Mohammad Noor Andi Kusumah, Kepala Sub Seksi Kontrol Polusi Lingkungan PPLH regional Kalimantan. (cpk) |
|
|



























