BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Tidak Sebahaya Krismon 1998
Rabu, 09-04-2008 | 04:00:00
Made Sukada
Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI

ANCAMAN krisis moneter, antara kondisi tahun 1997-1998 dengan sekarang jauh berbeda. Perbedaan yang paling prinsip ada dua. Pertama, dari sisi nilia tukar. Tahun 1997-1998, nilai tukar rupiah melemah sekian kali lipat, sedangkan sekarang, kondisinya relatif.

Kenapa saya bilang relatif, kalau terjadi pelemahan misalnya, nilai tukarnya akan rebound dalam waktu singkat.  Perbedaaan yang kedua, kondisi perbankan sekarang sangat berbeda dibandingkan tahun 1998. Kondisi sekarang jauh lebih baik. Indikatornya, Capital Adequacy Ratio (CAR), dan indikator- indikator lain perbankan menunjukkan hal yang jauh lebih bagus.

Dua perbedaan yang pokok ini memberi indikasi, kalau dibilang krisis moneter jilid kedua, saya secara pribadi tidak sependapat. Sisi lain, IMF menjual 368 ribu ton cadangan emasnya dan merumahkan karyawan adalah dua hal yang berbeda yaitu IMF dan krisis moneter. IMF sekarang dalam proses melakukan pembenahan intern secara besar-besaran.

Ketika saya di IMF, sebagai Alternate Executive Director yang mewakili 12 negara (Brunei, Kamboja, Fiji, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Singapura, Thailand, Tonga, Vietnam), saya ikut membahas masalah ini.

Menjual emas, walau saat itu yang kami bahas bukan menjual emas, tetapi meningkatkan kinerja keuangan. Langkah itu diambil, karena dalam dua tahun terakhir, negara yang mau meminjam dana ke IMF memang merosot.

Jangankan peminjam baru, anggota yang meminjam saja melunasi utangnya lebih awal seperti Indonesia. Ini artinya, sumber pendapatan IMF cekak, sementara biaya yang dikeluarkan untuk biaya operasional sangat tinggi. Di mana mencari duit, sementara dana yang dipinjamkan kepada anggota menciut tajam, jadi harus dicari sumber pendanaan. Satu di antaranya adalah dengan menjual emas.

Jadi kondisi IMF yang sedang cekak dengan krisis monter tidak terkait langsung. Kalau kaitannya tidak secara langsung, ya memang ada. Bahkan kondisinya berbalik, karena anggota yang tadinya meminjam tiba-tiba melunasi utangnya lebih cepat, di satu sisi kan ini indikator bagus kepada negara anggota, sehingga bisa melunasi lebih awal. Kalau tidak punya duit, bagaimana mau melunasi?

Lalu bagaimana signifikansi resesi ekonomi Amerika terhadap perekonomian Indonesia saat ini? Ini ada dua channel. Yang pertama melalui ekspor-impor. Karena Amerika merupakan salah satu mitra dagang, selama ini trade account Indonesia terhadap Amerika surplus.

Kalau kondisi perekonomian Amerika melemah, artinya masyarakatnya mengimpor dari negara lain, termasuk Indonesia akan lebih sedikit. Konkretnya volume ekspor kita agak berkurang. Ke depannya harus diantisipasi dengan mencari pasaran ke negara-negara tetangga. Kalau itu dapat ditingkatnya, tentu saja penurunan ekspor ke Amerika dapat dikonversi.

Alasan kedua, dari capital account, khusunya aliran modal. Ada dua hal yang sangat berpengaruh, yakni nilai tukar dan tingkat suku bunga. Kalau nilai tukar terkait kasus subprime mortgage atau kredit pemilikan rumah (KPR) yang menghebohkan Amerika, Juli 2007.

Investor karena kebakaran jenggot, lalu reposisi portfolionya dari negara-negara berkembang, dalam jangka pendek ekstra hati-hati dia menanamkan modal, bahkan mengurangi atau mempeketat investasi di negara berkembang. Lebih jauh, pengurangan dana ini terkait dengan exchange trade atau bursa efek.

Komponen kedua, tingkat bunga. Karena AS menurunkan suku bunga, sedangkan subu bunga di Indonesia tetap, sehingga interest differesnial menjadi cukup positif. Dengan demikian, inisiatif mereka menginvestasikan danay di Indonesia tidak berkurang. Jadi sekali lagi, dengan pertimbang- pertimbangan di atas, kondisi moneter saat ini memang perlu kita cermati, tapi tidak sebahaya krisis moneter tahun 1998. (persda network/amb)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA