BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Subsidi BBM sudah Telan Rp 32 Triliun
Kamis, 24-04-2008 | 05:20:12

ROMA, TRIBUN - Para menteri dari 70 negara produsen dan konsumen minyak gagal menahan lanju harga minyak dunia. Forum Energi Internasional yang berlangsung selama dua hari dan  membahas energi dunia, tidak menghasilkan langkah khusus untuk menghentikan kenaikan harga 'emas hitam' yang terus melambung.

Dalam forum energi tersebut, seperti dikutip Kyodo, Rabu (23/4), produsen minyak masih fokus pada langkah-langkah spekulatif para investor jangka pendek yang bisa mengacaukan harga minyak. Sementara pihak konsumen menyerukan untuk lebih perhatian terhadap kemungkinan kekurangan dalam pasokan.

Kemarin, harga minyak dunia kembali menembus rekor tertinggi  ke 119 dolar AS per barel. Serangan terhadap pipa minyak di Nigeria dan keengganan negara produsen minyak OPEC menaikkan produksinya menjadi pemicu kenaikan harga minyak. Pelaku pasar cemas dengan kondisi tersebut karena harga minyak yang sudah naik 57 dolar AS sejak akhir tahun lalu akan membuat pertumbuhan ekonomi di AS makin melambat.

Di New York pada penutupan perdagangan 22 April, harga minyak jenis light sweet untuk pengiriman Mei naik 1,89 dolar menjadi 119,37 dolar per barel. Bahkan sepanjang perdagangan harga minyak sempat menembus 119,90 dolar AS per barel.

"Untuk saat ini tidak ada yang bisa menghentikan kenaikan harga minyak ini," kata Ed Meir, analis dari MF Global seperti dikutip dari AFP, Rabu (23/4). Analis juga menyebut pertumbuhan ekonomi di Cina dan India ikut berperan dalam kenaikan harga minyak dunia akibat tingginya permintaan dari duanegara itu. Selain itu, pelemahan dolar AS terhadap euro juga ikut berperan.

Sementara itu, hingga bulan Maret 2008 ini, pemerintah sudah mengucurkan subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 32 triliun. Secara rata-rata tiap bulannya pemerintah mengucurkan Rp 10 triliun untuk subsidi BBM. "Hasil verifikasi itu sekitar Rp 30 triliun lebih, Rp 32 triliun," ujar Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Ditjen Anggaran Mudjo Suwarno di Jakarta, kemarin.

Tingginya subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah itu terkait tingginya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang kini menembus 100 dolar AS per barel. Subsidi BBM dalam APBN perubahan 2008 ditetapkan sebesar Rp 126,8 triliun. Angka ini jauh lebih besar dari besaran subsidi dalam APBN 2008 yang hanya dipatok sebesar Rp 45 triliun.

"Ya memang volumenya agak lebih besar sedikit kalau dihitung dengan kasarannya kali angka realisasi selama tiga bulan ini, kali empat saja, melebihi APBNP konsumsinya. mudah-mudahan ini kan baru tiga bulan, kan programnya masih banyak kemudian dalam rangka pengendalian minyak tanah, juga berhasil," ujarnya.

Untuk subsidi listrik, pemerintah membayar rata-rata Rp 2,5 triliun per bulan. Sedangkan secara keseluruhan dalam tahun ditargetkan sebesar Rp 60,291 triliun di 2008. "Tiga bulan PLN kan anggarannya Rp 60 triliun. Tapi sekarang masih mengacu APBN induknya. Januari, Februari masih menggunakan biaya pokok dari APBN. Rata-rata sekitar Rp 2,5 triliun setiap bulannya," ujarnya.

Pentagon Cemas

Setelah membelanjakan 15 miliar dolar AS untuk minyak pada 2007, Pentagon mengaku prihatin atas harga yang terus melonjak, karena untuk setiap dolar kenaikan harga minyak, ekstra 130 juta dolar AS harus ditambahkan di anggarannya.

"Harga minyak merupakan "keperihatinan yang signifikan bagi kami saat ini," kata Wakil Menteri Pertahanan Tina Jonas, kepala pejabat keuangan (CFO) Pentagon.

Harga minyak yang naik terus secara khusus merupakan masalah bagi Pentagon karena "Departemen Pertahanan merupakan konsumen minyak terbesar di Amerika Serikat," kata David Trachtenberg, mantan deputi asisten pertahanan untuk kebijakan keamanan internasional dalam presentasinya.

Jonas mengatakan total anggaran Pentagon untuk tahun fiskal 2009, di luar biaya perang di Irak dan Afganistan, sebesar 515 miliar dolar AS dan diperkirakan akan meningkat sebesar 6,5 persen menjadi 549 miliar pada 2013. (ant/dtc)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA