BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Air Siraman Diambil dari Tujuh Mata Air
Jumat, 09-05-2008 | 05:13:25

ImageYOGYAKARTA, KAMIS - Proses pernikahan putri ketiga Raja Yogya, Sri Sultan Hamengkubowono X - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi dengan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat, dimulai dengan siraman, Kamis (8/5). Acara diikuti kedua calon mempelai di Keputren dan Bangsal Kesatriyan, Gedhong Kompa di lingkungan Keraton, Yogyakarta.

Dari pantauan Persda Network, sebelum acara dimulai para petugas di Keputren menyiapkan berbagai perlengkapan siraman termasuk sesajen. Mulai dari mempersiapkan 30 tandan pisang raja, 30 jejang kelapa gading dan sejumlah dedaunan, terdiri atas daun beringin, kluwih, alang-alang, padi rojo lele dan tebu. Dedaunan itu tata di tiang-tiang pintu masuk yang ada di lingkungan Keraton, menyesuaikan jumlah pintu.

Acara siraman disaksikan kerabat dekat keluarga keraton dan undangan yang masih terbatas. GRAj Nurkamnari Dewi didampingi GKR Hemas, kakak kandung, GRAj Nur Abra Juwita, GRAj Wijareni (adik) bersama rombongan menuju Keputren. GRAj Nurkamnari yang mengenakan busana kebaya warna hijau lengkap dengan sanggul  memasuki acara siraman di Keputren disambut GKR Pembayun, kakak sulung.

Upacara siraman sekitar pukul 10.00 WIB dilakukan sembilan orang putri. Air yang disediakan di sebuah tempat penampungan, diambil dari tujuh sumber mata air di dalam lingkungan Keraton. Siraman pertama kali dilakukan GKR Hemas dengan menyiramkan air ke bagian rambut dan pundak mempelai wanita. Kemudian calon pengantin membasuh muka dari air yang diberikan Hemas.

Dilanjutkan dari pihak calon terua, dimulai Hj Hadayati selaku mertua, Utaryo, GBRAy Moerdokusumo, GBRAy Rio Kusumo, BRAy Benewo, BRAy Darmo Kusumo, Ny Monik Sudjatmoko dan terakhir Hj Kamaludingrat. Acara siraman ini berlansung sekitar 20 menit, yang diakhiri dengan pemecahan kendi oleh Hemas. "Semoga bertambah cantik," kata GKR Hemas usai memecah kendi.

Selesai proses siraman, GKR Hemas dan Hj Handayati beserta rombongan menuju Kagungan Dalem Kesatriyan untuk mempersiapkan diri melakukan siraman pada calon mempelai putra, KRT Purbodiningrat.

Mempelai Putra

Calon mempelai putra, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat, pemilik nama asli Yun Prasetyo Hadi, menjalani rangkaian proses didampingi KPH Wironegoro dan KRT Danukusumo. Mereka tiba di Regol Magangan pukul 09.17 WIB.

Hj Handayati, ibu, dan Raden Didik Nugrahanto, kakaknya, ikut mengiringi KRT Purbodiningrat memasuki kompleks Kesatriyan menjalani proses nyantri. Calon pengantin pria mengenakan baju Atela putih dan kain picis Purbonegoro setelah diterima KGPH Hadiwinoto dan GBPH Prabukusumo, memasuki Gedhong Kompa.

Pakaian lengkap yang dikenakan kemudian dilepas satu persatu, untuk diganti dengan selebar kain putih dan dipersilakan duduk untuk menjalani ritual siraman. Seperti calon mempelai putri, siraman kali ini  juga dipimpin langsung GKR Hemas, yang berlanjut berurutan dilakukan ibu KRT Purbodiningrat serta besan Sultan Hj Monik Sri Widyatni dan keluarga keraton lainnya yang dituakan.

Usai menjalani ritual siraman, calon mempelai pria tidak melakukan aktivitas, dan kembali akan menjalani prosesi Midodareni pada malam hari pukul 21.00 WIB.

Sementara itu, selama dilakukannya proses siraman untuk calon mempelai putra, GRAj Nurkamnari menjalankan proses kerik. Proses ini dilakukan perias pengantin putri, Lies Adang, yang juga menjabat Ketua Himpunan Perias Kota Yogyakarta.

 Menurut KRT Pujaningrat, Pengageng II Kawedanan Hageng Sri Wandawa Keraton Yogya, prosesi nyantri merupakan proses menjalani pingitan sebelum memasuki prosesi-prosesi berikutnya. Pada zaman dahulu pingitan untuk calon pengantin pria berlangsung selama 40 hari, namun sekarang prosesi ini dipersingkat. (Persda Network/Katharina Siswi W)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA