| Iklan baris Online | |
|---|---|
|
|
|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 1 day, 4 hours ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Prakiraan Cuaca | |||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||||||||||||||
| Data Pengujung |
|---|
|
IP 38.103.63.17 Browser Operating System |
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Ayah Racun Dua Anaknya |
| Kamis, 08-05-2008 | 05:17:21 | |
|
DIDUGA akibat himpitan ekonomi, seorang ayah tega meracun dua anaknya yang masih bocah. Adam, 5, tewas. Sebelumnya, Sukirman, warga Tegal, Jawa Tengah, lebih dulu menenggak pestisida. Bagaimana ceritanya? SELASA 6 Mei 2008. Jarum jam menunjukan pukul 00.30 WIB. Suasana kampung di Kelurahan Pesurungan Kidul, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, tampak sunyi senyap. Keheningan malam terpecahkan setelah dua bocah masing-masing bernama Robi Febrianto (6), dan Muhamad Adam (5), berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan. Isak tangis dan rintihan kesakitan, membuat Rudin, 45, saudara dekat kedua bocah terbangun. Lelaki itu bergegas keluar rumah. Lamat-lamat ia amati rumah Sukirman, 37, adik iparnya. Semakin dekat, suara rintihan kedua bocah semakin keras. Didobraknya pintu rumah. "Brak...." Astaga...! Lelaki itu mendapati Robi dan Adam tengah sekarat. Bak anak ayam disembelih, keduanya menggelepar-ngelepar kesakitan. Tak jauh dari posisi kedua bocah, Rudin mendapati Sukirman dalam kondisi yang sama. Tangannya terlihat masih menggenggam botol plastik berisi cairan pestisida. Lelaki itu lalu memberi minum Robi dan Adam. Keduanya sempat muntah-muntah sebelum dibawa ke rumah sakit. Sukirman ia biarkan tergeletak di lantai rumahnya. Usai menyelamatkan kedua bocah, Sukirman kemudian dibawa ke puskesmas. Kemarin ia dirujuk ke RS Kardinah Tegal. Menurut Rudin, peristiwa itu sangat mengagetkan keluarganya. Selama ini kondisi keluarga adik iparnya itu baik-baik saja. Ia juga jarang melihat keluarga Khotijah-Sukirman bertengkar. Hanya saja, Sukirman masih menumpang di rumah mertuanya, Minten, 62. Untuk menghidupi isteri dan kedua anaknya, ia bekerja sebagai tukang becak. Sejak empat hari terakhir, Sukirman terlihat tidak bekerja. Minten mengakui bahwa ia masih membantu ekonomi anak, menantu, dan cucu-cucunya itu. Selain penghasilan Sukirman dari menarik becak, untuk makan sehari-hari, lelaki itu masih mengandalkan penghasilan Minten sebagai buruh tani. Keluarga anaknya memang hidup pas-pasan. Khotijah tidak bekerja, karena sibuk mengurus kedua anaknya. Untuk jajan sehari-hari, kedua cucunya juga lebih sering minta uang kepadanya. Kepala Polresta Tegal Ajun Komisaris Besar MM Rachman melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Tukiran mengatakan, polisi masih menyelidiki kasus itu. Saat ini, kondisi kesehatan Sukirman harus dipulihkan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ia akan dimintai keterangan. Usut punya usut, ternyata dibalik peristiwa tragis itu, Sukirman sengaja melakukan bunuh diri. Namun, ia ingin mati bersama anak-anaknya. Karena itulah, sang anak ia racun. Tindakan itu dilakukan lantaran Sukirman tak lagi bisa bernafas akibat himpitan ekonomi. Hingga kemarin Sukirman, sudah bisa diajak berkomunikasi meski suaranya masih sangat pelan. Kondisinya masih lemah. Sedangkan satu anaknya bernama Adam, akhirnya meninggal. Jenasahnya sudah dimakamkan kemarin pagi. Satu anaknya yang lain, Roby, masih dirawat di RSUD Kardinah Tegal. Penghasilannya sebagai tukang becak, tidak pernah cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Akibat tekanan ekonomi, ia juga sering cekcok dengan isterinya, Khotijah, 28. Sebagai tukang becak, ia hanya mendapatkan upah sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per hari. Bahkan tidak jarang, ia pulang tanpa memperoleh hasil. Uang tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Isterinya sering bersikap kasar, apabila ia pulang kerja tanpa membawa uang. Lantaran merasa putus asa, selama tiga hari terakhir ia memilih tidak bekerja. Sebelum kejadian, ia juga cekcok dengan sang nyonya. Usai cekcok, isterinya menuju belakang rumah, menangis. Sukirman bingung. Lelaki itu mengambil sisa cairan pestisida milik mertuanya di dapur. Ia masuk kamar dan membangunkan kedua anaknya yang sudah tidur. Sebelum meracuni kedua anaknya, Sukirman menenggak racun terlebih dahulu. "Saya ingin mati bareng bersama anak saya. Kalau saya mati sendiri, saya takut anak-anak saya tidak ada yang menghidupi lagi," ujar Sukirman. Ditemui di RS, Khotijah mengaku tak menyangka kalau suaminya bakal senekat itu. Karena masih kesal, wanita itu tak juga belum mau menemui suaminya yang tergolek di bangsal rumah sakit. "Keluarga kami hidup pas-pasan. Penghasilan sebagai tukang becak tidak mencukupi untuk hidup. Anak-anak saya sudah besar dan membutuhkan uang jajan," tuturnya. Selama ini, kedua anaknya justru lebih sering mendapatkan uang jajan dari neneknya, Minten maupun uwaknya, Rudin. Karena tidak memiliki tempat tinggal, Khatihah dan keluarganya masih menumpang di rumah ibunya, Minten. Ia dan dua anaknya tidur di kamar berukuran 2 X 2,5 meter persegi, sedangkan suaminya tidur di ruang tengah. (bec/kompas.com) |
|
|



























