BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Mempelai Wanita 115 Kg, Pondhongan Hanya Simbolis
Sabtu, 10-05-2008 | 05:18:24

ImageYOGYAKARATA, TRIBUN  - Pernikahan putri ketiga Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jumat (9/5) pagi berlangsung khitmad. Sri Sultan melaksanakan ijab kabul menikahkan putrinya GRAj Nurkamnari Dewi yang saat ini bergelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno dengan Kanjeng Raden Tumenggung(KRT) Purbodiningrat, yang saat ini bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).

Ijab kabul berlangsung di Masjid Penepen Keraton Yogyakarta, sekitar pukul 06.30 WIB.  Sultan didampingi dua orang adik kandungnya GBPH Joyokusumo dan GBPH Prabukusumo tiba di masjid sekitar pukul 06.25 WIB. Sultan yang mengenakan surjan putih motif ceplok (bunga-bunga), duduk di tengah masjid menghadap ke timur.

Calon pengantin pria, KPH Purbodiningrat didampingi sang kakak R Didik Nugrahanto dan KPH Wironegoro (menantu sulung Sultan), tiba sekitar pukul 06.30 WIB, dan  rombongan pengantin dipimpin oleh KGPH Hadikusumo, adik Sultan.

Calon pengantin yang mengenakan surjan putih duduk di hadapan Sultan menghadap ke barat. Sebelum akad nikah, penghulu Keraton KRT H Kamaludingrat memanjatkan doa nikah. Setelah itu,  ultan melakuan ijab kabul menggunakan bahasa Jawa.

Usai melaksanakan ijab kabul sekitar pukul 09.00 WIB acara kembali berlanjut dengan prosesi panggih (bertemunya pengantin putri dengan pengantin putra) di bangsal Kencana. Acara ini dihadiri  Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri yang mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kedua mempelai mengenakan busana basahan gaya Yogyakarta. Pengantin pria yang diapit oleh KPH Wironegoro dan KRT Danukusumo dari gedhong Kesatriyan menuju tratag bangsal kencana. Rombongan pengantin pria dipimpin KGPH Hadiwinoto.

Rombongan ini juga disertai para abdi dalem keparak membawa kembar mayang untuk dibuang jauh di perempatan jalan sekitar Keraton. Diantara rombongan pengantin pria ada dua perempuan yang berperan sebagai edan-edanan dengan rias dan pakaian seperti orang gila.

Juga ada dua pria berdandan seperti orang gila menaiki kuda lumping. Edan-edanan ini menjadi pembuka barisan rombongan pengantin pria bermaknsa sebagai penolak bala atau pengusir kekuatan negatif.

Prosesi panggih dimulai dengan bertemunya kedua pengantin yang saling melempar sirih, dan mempelai putri membasuh kaki pengantin pria. Dilanjutkan dengan acara pondhongan, yang menjadi ciri khas perkawinan keraton. Pada podhongan, pengantin pria mengangkat pengantin putri. Dan pondhongan kali ini dilakukan oleh pengantin pria, KPH Purbodingrat dibantu oleh KRT Danukusumo.

Setelah prosesi pondhongan, kedua mempelai bergerak ke Tragtag Bangsal Proboyekso bersama Sri Sultan HB X dan GKR Hemas untuk memberi kesempatan pada undangan yang datang menyampaikan ucapan selamat pada mempelai.

GKR Maduretno (Nurkamnari Dewi) diapit oleh Sri Sultan dan GKR Hemas serta KPH Purbodiningrat yang diapit oleh ibunda Hj Hadayati dan R Didik Nugrahanto (kaka) menerima ucapan dari tamu undangan yang datang.

Dari pantauan Persda Network, selain Wapres Yusuf Kalla dan isteri tampak yang hadir di antaranya, mantan Presiden BJ Habibie, mantan Wapres Try Soetrisno, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Mendiknas Bambang Sudibyo, Meutia Hatta (Meneg Pemberdayaan Perempuan), Anton Apriantono  (Menteri Pertanian), Erman Soeparno (Menakertrans), Moeryati Sudibyo, Prabowo Subianto, Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqi beserta Ketua KPK, Antasari Azhar. Beberapa duta besar yang juga hadir, serta sekitar 500 raja di seluruh nusantara yang turut diundang dan para duta besar.

amu undangan yang datang sekitar 2.000 orang, termasuk diantaranya ada beberapa artis seperti, Widyawati, Novia Kolopaking dan Emha Ainun Najib, Nurul Arifin, Garin Nugroho, Sophan Sopian, dan Marini  membuat antrian panjang di Tragtag Bangsal Proboyekso.

Hanya Simbolis

Prosesi  pondhongan yang menjadi ciri khas dari rangkaian pernikahan ala Keraton Yogyakarta, kali ini hanya dilakukan secara simbolis. Pondhongan yang mengharuskan pengantin pria membopong pengantin wanita dengan membentangkan  tangan dibantu salah seorang kerabat keraton ini, baru pertama kalinya terjadi ritual ini dilakukan secara simbolis.

Mengingat mempelai wanita GKR Maduretno yang memiliki bobot 115kg, tidak bisa dibopong oleh mempelai pria. Meskipun pada saat sebelum acara dimulai sudah pernah dicoba beberapa kali.

Romo Dinusatomo, Ketua Panitia Upacara Pernikahan menuturkan, meskipun prosesi ini merupakan keharusan dari rangkaian acara pernikahan, namun bisa dimungkinkan pengecualian apabila ada hal-hal yang membuat ritual tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya.

"Ini memang baru pertama kalinya terjadi, karena tidak ada satu orang pun yang kuat mengangkat mempelai wanita. Dan acara ini tidak boleh dibantu oleh beberapa orang, hanya boleh dua orang saja," ujar Rm Dinusatomo.

Dia juga menegaskan ini tidak menjadi masalah, meskipun menjadi salah satu ritual pernikahan Keraton Yogyakarta. Pada prosesi pondhongan kali ini, mempelai pengantin wanita hanya beberapa detik berada di atas lengan mempelai pria. Seharusnya, mempelai pria membopong mempelai wanita dari Bangsal Kencana hingga ke sebelah utara. "Nggak apa-apa, mau bagaimana lagi. Apa kita mau menyewa Ade Rai,"  ujar Rm Dinu. (persda network/katharina siswi w)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA