|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 13 hours, 51 minutes ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Liverpool Sukses berkat Rotasi Pemain |
| Kamis, 10-04-2008 | 04:00:00 | |
|
MENYEBUT sukses Liverpool menembus empat besar Liga Champions setelah mengandaskan Arsenal dengan skor 4-2 (menang agregat 5-3), Rabu (9/4) dini hari, tentu tak lepas dari kepiawaian sang manajer, Rafael Benitez.
Kalau mau dicermati, justru Benitez-lah pahlawan The Reds. Ia benar-benar seorang pelatih bertangan dingin karena sejak menukangi Liverpool dalam tiga musim terakhir, nyaris selalu menorehkan prestasi gemilang di Liga Champions -- tiga musim terakhir dua kali lolos ke final dengan sekali juara pada 2005. Dari hasil terakhir, ia juga bisa dikatakan sudah mengalahkan sosok Arsene Wenger yang sudah malang melintang bersama Arsenal. Kunci sukses Benitez mengalahkan Wenger terletak pada strategi, rotasi pemain, dan tentu mental juara. Dalam tiga pertemuan beruntun dengan The Gunners, strategi Benitez terbukti tak pernah salah. Benitez sangat berani dengan memainkan tiga model formasi berlainan untuk meredam pemain-pemain Arsenal yang terkenal agresif. Benitez memilih pola bertahan dengan skema 4-2-3-1 di dua pertandingan awal saat menghadapi Arsenal di Stadion Emirates. Tapi pilihannya terbilang berhasil, karena Liverpool tidak kalah --dua partai berakhir imbang 1-1, di leg pertama perempatfinal Liga Champions dan di pentas Premier League. Nah, barulah di leg kedua perempatfinal, Benitez lebih berani menyerang dengan formasi 4-4-2 dengan memainkan Peter Crouch dan Fernando Torres secara bersamaan. Belakangan untuk menambah daya dobrak ia memasukkan Ryan Babel. Rotasi Pemain Pilihan pemain juga menjadi faktor penting akan keberhasilan Benitez mengalahkan Arsenal. Ia melakukan rotasi pemain dalam tiga partai berturut melawan Arsenal. Pemain seperti Damien Plessis, Lucas Leiva, Benayoun, Steve Finnan, Javier Mascherano, Arbeloa, Arni Riise, Jermaine Pennant, hingga Peter Crouch selalu dirolling. "Umur mungkin menjadi kuncinya. Beberapa pemain bisa bugar dalam waktu dua atau tiga hari, bahkan ada yang perlu empat hari. Karenanya kami perlu merotasi beberapa pemain," kata Benitez. Bahkan kapten tim seperti Steven Gerrard dan striker Fernando Torres pun masuk pemain yang dirotasi. Yang jelas, di kepala Benitez semua adalah kebutuhan tim. Jadi tidak ada pemain istimewa yang bakal selalu menjadi starter. Buktinya, tiga partai melawan Arsenal, Liverpool turun dengan pemain berbeda. Pelatih asal Spanyol ini sadar, dia tak bisa mengharapkan semua pemain bisa tampil maksimal tiga kali dalam waktu tujuh hari. Apalagi, pertandingan melawan Arsenal menuntut stamina yang prima lantaran tempo permainan yang selalu tinggi. "Tak mungkin memainkan pemain yang sama tiga kali dalam waktu satu minggu. Itu tidak mungkin," lanjut Benitez tentang alasan kebijakan rotasi pemain. Pemain Liverpool pun menyambut positif kebijakan tersebut. "Saya hanya bermain sesuai instruksi pelatih. Tidak masalah apakah saya pemain cadangan atau inti, saya hanya berusaha tampil sebaik-baiknya. Sukses melaju ke semifinal tentu membuat kami sangat senang," kata Babel seperti dikutip dari Goal, Rabu (9/4). Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan Wenger. Perubahan pemain atau rotasi jarang dilakukan Wenger, hingga pemain Arsenal kelelahan karena sebagian besar pilarnya selalu main. Sebaliknya skuad Liverpool tampil lebih segar. Faktor lain penentu lolosnya Liverpool ke semifinal adalah mental pemain mereka sebagai klub bermental juara. Mereka sudah lima kali juara Liga Champions, bahkan dalam tiga musim terakhir dua kali melaju ke final. Faktor pengalaman tersebut membuat The Reds menjadi tim yang selalu bisa bangkit saat tertinggal. Contoh, mereka tidak panik saat tertinggal 0-1, kemudian bisa berbalik unggul 2-1. Saat kedudukan 2-2, mereka kembali bisa membalas sekaligus memastikan kemenangan menjadi 4-2. Demikian pula ketika tertinggal oleh gol Adebayor di leg pertama, mereka langsung membalas melalui gol Dirk Kuyt. Pemain dengan mental juara ini muncul pada sosok seperti Jamie Carragher, Sammy Hyyphia, dan juga Gerrard. Bahkan pelatih Arsenal sendiri mengakui kalau timnya memang kalah pengalaman. "Kami kalah karena kurangnya pengalaman pemain kami saat bertahan. Kami membuat kesalahan besar dengan kebobolan dari sebuah umpan pojok yang sebenarnya bisa kami hindari," kata Wenger. Bertemu Chelsea Kini Liverpool sudah memastikan lolos ke babak semifinal. Lawan kuat pun telah menunggu mereka, Chelsea. The Blues lolos setelah menang 2 0 (agregat 3 2) atas Fenerbahce, di Stamford Bridge. "Kami sudah siap menghadapi Chelsea (lagi)," tegas Gerrard kepada The Sun. Pertemuan Liverpool dengan Chelsea menjadi laga ulangan musim-musim terdahulu. Ini adalah pertemuan ketiga selama empat musim terakhir di semifinal Liga Champions. Duel semifinal pertama terjadi di musim 2004/2005. Waktu itu, lagi-lagi Liverpool kembali keluar sebagai pemenang. Setelah di leg pertama bermain tanpa gol, pada leg kedua Chelsea kandas oleh gol 'aneh' Luis Garcia. Lalu musim 2006/2007 lalu, Liverpool keluar sebagai pemenang melalui babak adu penalti --di dua laga sebelumnya mereka saling mengalahkan dengan skor 1-0. Liverpool unggul 4 1 dan menembus partai puncak sebelum dikalahkan AC Milan 2-1. Sedangkan pada musim 2005/2006 lalu, kedua tim tergabung dalam Grup G pada babak penyisihan. Tapi dari dua pertemuan kandang-tandang, tidak ada gol yang tercipta alias keduanya bermain dengan skor kacamata, 0 0. Dari data statistik hasil pertemuan keduanya di ajang Liga Champions, rupanya sejarah memang memihak kepada The Reds. Chelsea pun memiliki rekor buruk di semifinal. Dalam lima musim terakhir, mereka selalu terhenti di semifinal, termasuk dua kali takluk secara mengenaskan dari The Kop. Namun, gelandang Chelsea, Frank Lampard, tidak terlalu khawatir karena mereka sudah sama sama mengenal kekuatan lawannya masing masing. "Kami tahu semua tentang mereka, begitu juga mereka tahu semua tentang kami. Luar biasa kami sering menghadapi situasi seperti ini. Ini akan menjadi laga yang ketat dan sangat penting bagi kami berkonsentrasi," kata Lampard. Kini pertanyaan mengarah kembali ke Rafa Benitez. Mampukah pelatih Spanyol ini mengantarkan Liverpool ke final? Atau Avram Grant mampu membalaskan dendam kesumat publik Stamford Bridge, sekaligus mewujudkan mimpi Roman Abramovich yang ingin menyaksikan Chelsea di Moskow? Kita nantikan. (persda network/arif uddin usman/komang agus r) |
|
|




























