| Iklan baris Online | |
|---|---|
|
|
|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 1 day, 5 hours ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Prakiraan Cuaca | |||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||||||||||||||
| Data Pengujung |
|---|
|
IP 38.103.63.17 Browser Operating System |
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Amok dan Pepe |
| Senin, 07-04-2008 | 04:00:00 | |
|
SELAMAT hari Senin. Semoga seluruh pembaca Tribun Kaltim mengawali hari di pekan ini dengan kemampuan mengendalikan diri dari sikap yang emosional. Bila merasa diri tidak kuasa menahan emosi segeralah sebut nama Tuhan sambil memohon agar dijauhkan dari godaan setan. Karena, dalam perspektif agama, amarah dan emosi itu datangnya dari setan.
Pembaca. Ada satu kata dalam khazanah bahasa Indonesia, yang kini hampir punah, yaitu kata pepe. Dikatakan hampir punah karena hanya sebagian kecil orang Indonesia masa kini saja yang mengerti apa itu makna pepe. Bahkan, bila kita mencari makna kata pepe di mesin pencarian google atau wikipedia, maka yang akan tersaji adalah nama-nama restoran terkenal ala Spanyol yang menyajikan masakan khas mediteranian kelas internasional. Padahal, dalam terminologi ilmu sosiologi Indonesia, kata pepe sangatlah legendaris. Pepe memang diambil dari bahasa Jawa. Secara harfiah, pepe berarti orang yang berjemur diri di bawah terik matahari. Dalam terminologi sosiologi –politik klasik Indonesia, pepe adalah sebuah aksi demonstrasi. Demonstrasi ala pepe, dilakukan rakyat manakala hak-hak mereka dirugikan. Bila itu terjadi, maka rekyat akan melaklukan aksi pepe, dengan cara duduk beramai-ramai dalam hening dan damai, di bawah terik matahari yang menyengat, di lapangan terbuka (alun-alun) di depan istana kerajaan, untuk mencari keadilan. Rakyat akan terus melakukan aksi pepe berhari-hari sampai raja keluar dari istana dan memberikan suatu keputusan –yang biasanya—akan memihak kepada kepentingan rakyat. Satu lagi khazanah kata Indonesia yang berhubungan dengan ilmu sosiologi yang juga hampir dilupakan di negeri ini, yaitu, kata amok. Padahal kata amok –orang Barat menulisnya dengan amock—sangat popular di dunia internasional. Amock, oleh masyarakat Barat, tidak saja menjadi bahasan ilmiah dalam konteks sosiologis, namun juga digunakan sebagai judul novel, thema film, lagu, puisi hingga ke seni tari dan drama. Amok memang muncul sebagai kata internasional setelah ilmuwan Barat menemukan sebuah tradisi di Jawa (zaman penjajahan), dimana sejumlah penduduk pribumi mengamuk manakala hak-haknya dirugikan atau ditindas. Dengan demikian amok atau amock, sejatinya memiliki arti amuk atau mengamuk dalam terminologi bahasa Indonesia masa kini. Hanya saja, amok/amock dalam kacamata ilmuwan Barat dimaknai dalam konteks politik khas Indonesia (baca: Jawa). Yang artinya, sebuah manifestasi unjuk rasa –karena rakyat tertindas—dengan ekspresi fisik yang menimbulkan kerusakan. Tujuannya sama, yaitu; rakyat yang berunjuk rasa dengan amok, menghendaki agar aksinya itu dilihat, diketahui atau didengar oleh sang raja atau penguasa, yang tujuan akhirnya untuk memperoleh keadilan, Jadi, baik pepe maupun amok, keduanya adalah ekspresi rakyat yang tertindas, dengan setting pemerintahan kerajaan Jawa zaman dahulu kala. Maknanya, sistem demokrasi dalam konteks dimana setiap orang berhak menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, ternyata sudah ada akarnya dalam khazanah budaya nasional kita lewat kata pepe dan amok tersebut. Bila pepe mencerminkan aksi demontrasi rakyat dengan cara damai dan hening, maka amok atau amock adalah ekspresi rakyat dalam bentuk merusak atau chaos. Sarjana Barat memberi catatan kaki, bahwa pepe umumnya dilakukan oleh rakyat yang hidup dalam tatanan nilai yang relatif lebih “edukatif”. Sedangkan amok atau amock umumnya dilakukan oleh lapisan rakyat yangkurang tersentuh oleh tata nilai “sekolahan” yang umumnya berdomisili jauh dari pusat kerajaan. Maka, pepe adalah cerminan bagaimana demokrasi itu ditunjukkan dalam bentuk unjuk rasa yang diekspresikan dengan cara tenang dan damai, sedangkan amok adalah ekspresi demokrasi dalam bentuk demosntrasi dengan cara kekerasan. Pembaca yang saya hormati. Hari-hari ini kita terlalu banyak menyaksikan aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia. Demonstrasi dengan skala besar yang menghentak, misalnya baru saja kita saksikan terjadi di Kendari, yang melibatkan bentrok brutal antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Aksi bentrok dengan kekerasan juga hampir kita saksikan setiap hari antara pedagang kaki lima di banyak kota di Indonesia dengan aparat satuan polisi pamong praja (Satpol PP). Melihat proses demokratisasi dalam bentuk kekerasan seperti itu, setiap hari, yang terjadi di berbagai kota dan daerah di Indonesia, muncul pertanyaan. Kenapa ya, semuanya lebih mengedepankan emosi. Penguasanya emosi, aparat dan pelaksana pemerintah juga emosi, rakyatnya pun emosi. Semua terbakar emosi ? Unjuk rasa adalah bagian dari demokrasi dan kita sepakat bahwa negara kita sedang kita antar bersama-sama menuju negara yang berlandaskan demokrasi. Namun, apakah demonstrasi dengan kekerasan adalah sebuah pilihan terbaik? Saya kira antara pepe dan amok, bisa kita pilih sebagai rujukan manakala kita akan mengekspresikan aspirasi kita dalam bentuk unjuk rasa. Dengan cara pepe yang damai dan tenang (dilakukan oleh masyarakat Jawa zaman dulu yang ralatif memiliki dan taat pada acuan tata-nilai) atau dengan cara amok yang merusak yang emosional. Pembaca Tribun Kaltim yang saya hormati. Silakan menikmati berita-berita sajian kami. Kami berharap apa yang kami sajikan kiranya banyak manfaatnya bagi pembaca sekalian. Kemarin, kami sajikan berita dimana pemerintah China kalap dan menembak mati 15 rakyat sipil dan biksu warga Tibet. Ya Allah, Gusti. Kekerasan sedang terjadi dimana-mana di seluruh dunia. Mohon disimak –bila pembaca berkenan—wanti-wanti pujangga Ronggowarsito yang mengingatkan kita, “Zamannya memang zaman edan. Kalau tidak edan kita tidak akan mendapat kesempatan untuk berkuasa. Tapi orang yang paling beruntung adalah mereka yang selalu eling-dzikir-ingat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan selalu pula bertindak dalam tingkah laku yang penuh waspada.”Salam. |
|
|





























