BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Empati
Senin, 31-03-2008 | 05:12:25

SELAMAT hari Senin. Semoga di awal pekan ini seluruh pembaca Tribun Kaltim dalam keadaan sehat wal afiat. Bila kondisi tubuh sehat, silakan bekerja keras untuk mencari rezeki Tuhan yang bertebaran di muka bumi. Silakan juga menggapai cuta-cita menuju puncak. Namun, mohon diingat jangan lupa untuk selalu mengasah dan memperbaiki kepribadian diri, dari waktu ke waktu.

Karena sesungguhnya dibutuhkan keperibadian tertentu untuk bisa bertahan di puncak. Pembaca yang saya hormati. Saya pernah diajar oleh Prof Dr Sri Edy Swasono untuk mata kuliah sistem ekonomi Indonesia, ketika saya kuliah di Universitas Indonesia untuk program strata satu.

Teman-teman kuliah saya di UI pada pertengan tahun 70-an, hampir mayoritasnya berasal dari keluarga yang mapan secara ekonomi dan dengan status sosial kelas atas. Beberapa di antaranya adalah anak menteri, beberapa lagi anak pejabat tinggi sipil dan militer, pengusaha danprofesionalis yang sukses.

Prof Sri Edi –suami dari Menteri Pemberdayaan Wanita, Meuthia Hatta— sering memberi kejutan yang menegangkan di tengah-tengah penyampaian materi di ruang kuliah. Misalnya, tiba-tiba disebutnya nama seorang mahasiswi, lalu beliau bertanya; “Non (begitulah ciri khas beliau kalau memanggil mahasiswi) berapa harga satu kilogram beras Cisadane di pasartradisional, hari ini?”

Di saat yang lain, dengan cara yang sama, tiba-tiba beliau menyebut satu nama mahasiswa atau mahasiswi lalu meluncurkan pertanyaan sejenis, yang umumnya menyangkut masalah kebutuhan pokok rakyat. Pertanyaan itu menyangkut soal harga, dimana barang itu bisa didapatkan, bagaimana sistem distribusinya, perbandingan kualitasnya,  hinggá ke masalah berapa kira-kira pedagang kecil memperoleh untung, berapa marjinnya dan seterusnya.

Umumnya Prof Sri Edi Swasono, bertanya tentang hal-hal kecil yang terjadi dan menimpa pada rakyat kita. Tapi, maklum teman-teman saya peserta mata kuliahnya Prof Sri Edi, sebagian besar adalah mahasiswa “gedongan”.  Maka, yang ditanya umumnya gelagapan, lalu diam membisu beberapa saat, tanda ia tidak tahu jawabannya.

Begitulah kondisi dan sikap rata-rata anak muda dari keluarga papan atas Jakarta di tahun itu. Mereka tidak tahu terhadap apa yang terjadi di lingkungan masyarakatnya. Mereka, tidak peduli terhadap rakyat di sekitarnya. Kondisi dan sikap seperti itulah yang terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu di Jakarta. Dan, kini situasi tersebut sedang kita rasakan bersama, telah melanda secara luas di negeri ini terhadap anak-anak muda kita.Tidak percaya ? Coba kita sodorkan pertanyaan serupa kepada anak-anak muda masa kini, seperti

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Prof Edi Swasono 30-an tahu lalu. Utamanya pertanyaan, tentang kondisi ekonomi nasional yang tengah melingkupi rakyat kita saat ini, baik pertanyaan tentang harga satu kilogram beras, harga minyak goreng, harga minyak tanah, harga

satu gram emas dan seterusnya. Maka, kayaknya hanya dalam itungan persentase kecil saja, anak-anak muda masa kini yang bisa menjawabnya dengan benar.

Saya menangkap, cara memberi pertanyaan yang dilakukan Prof Sri Edi Swasono –dosen pada FE-UI ini ketika mengajar saya dulu, statusnya masih belum bergelar profesor— agaknya bertujuan agar mahasiswa UI memiliki rasa empati terhadap nasib rakyatnya.

 Itulah sebabnya, ketika seorang mahasiswi yang tak mampu menjawab pertanyaannya, biasanya beliau akan nyeletuk, “Makanya Non, jangan nyuruh pembantu melulu. Coba sering-seringlah beli sendiri di pasar tradisional.”Empati sendiri  (dari bahasa Yunani) yang berarti "ketertarikan fisik." Ia  didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain.

Karena pikiran, kepercayaan, dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya, seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain. Empati sering juga ditafsirkan sebagai semacam resonansi perasaan seseorang terhadap orang lain.

Pembaca, silakan menikmati sajian berita-berita dari Tribun Kaltim. Mohon bukalah sedikit ruang dalam pikiran dan perasaan kita, untuk berempati terhadap orang lain di sekitar kita, khususnya terhadap mereka yang bernasib kurang beruntung dibanding kita.

Salam.

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA