| Iklan baris Online | |
|---|---|
|
|
|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 1 day, 5 hours ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Prakiraan Cuaca | |||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|||||||||||||||||||||
| Data Pengujung |
|---|
|
IP 38.103.63.17 Browser Operating System |
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Keris |
| Senin, 05-05-2008 | 04:00:00 | |
|
SELAMAT hari Senin. Semoga seluruh pembaca Tribun Kaltim mampu menempa diri untuk memiliki karakter yang kuat. Karena ketika reputasi seseorang tidak lagi sesuai dengan karakternya, maka itulah tanda-tanda dia tak lebih dari seorang munafik, Pembaca yang saya hormati. Rasanya mendapat kehormatan yang luar biasa menerima tamu seorang raja. Senin sepekan lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X berkunjung ke kantor saya di Jakarta. Kami menerima beliau selama tiga jam, dari pukul 10.00 hingga 13.00, berbincang tentang banyak hal, dari masalah politik, kehidupan berbangsa dan bernegara, kebudayaan, hingga masalah keris. Surprise bagi kami, karena ternyata Kanjeng Sultan tidaklah repot dalam memilih menu jamuan makan siang. Sehingga kami dapat menyuguhkan makanan ala kadarnya. Saya mendampingi beliau dahar, sambil tetap ngobrol. Sungguh saya baru tahu begitulah bila seorang raja menyantap makanan, pelan, tak ada suara yang ditimbulkan dari mulut maupun dari benturan antara sendok-garpu dan piring. Seolah-olah setiap suap, beliau nikmati sebagai nikmat dari Gusti Allah. Beruntung ketika saya kecil dulu, ibu saya selalu mengajarkan tata krama makan ala Jawa. Diantaranya, ibu mengajarkan, bila kamu sedang makan bersama tamu, maka hormatilah sang tamu. Dahulukan tamu untuk mengambil sajian. Ibu melarang saya menyelesaikan santap makan, mendahului sang tamu. "Tunggu sampai tamu kita menutup sendok-garpu, tanda dia berhenti menikmati sajian kita, barulah kamu selesaikan makannya." Begitulah ibu saya mewanti-wanti untuk menjaga adab makan, menghormati tamu yang berkunjung ke rumah. Alhamdulillah ketika saya praktekan tata krama tersebut, saya melihat Sri Sultan memberikan tanda respek kepada saya. Meski, saya harus bener-benar "berjuang" untuk bersabar menunggu hingga Kanjeng Sultan menyelesaikan santapannya. Tentang keris, Kanjeng Sultan mengakui bahwa beliau masih memiliki dan menyimpan sejumlah keris peninggalan dari leluhurnya, yang harus dijaga dan dirawat hingga sekarang. Masing-masing keris miliknya, mempunyai nama. Ada keris bernama Ki Ageng Sengkelat. "Saya masih menjaga keris tersebut karena saya masih prihatin memikirkan kondisi negara dan bangsa ini," jelas Kanjeng Sultan. Ada juga keris dengan nama Kiai Kopek. Keris ini hanya dipakai saat penobatan beliau sebagai raja. Juga ada keris Jangkung Mangkunegoro. Keris lekuk tiga ini merupakan pesanan khusus Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai simbol untuk menguasai nusantara. Persepsi saya selama ini tentang hubungan keris dan pemiliknya, ternyata salah. Dan, kekeliruan saya tentang keris itu diluruskan, setelah saya berbincang-bincang dengan Kanjeng Sultan. Sebelumnya, saya berpersepsi bahwa raja-raja Jawa seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, memperlakukan keris sebagai asal muasal dari sumber kekuatan, sumber kekuasaan. Keris bahkan memiliki daya magis. Oleh karenanya, harus ada ritual khusus pemujaan. Dengan demikian maka keris haruslah dipertahankan dan tidak boleh beralih tangan. Bila keris berhasil direbut orang lain, itu berarti jatuh pula kekuasaannya. "Bapak –begitulah ciri dan aksen khas Kanjeng Sultan dalam memanggil lawan bicaranya—bagi saya keris itu tak lebih dari simbol saja. Keris itu hanyalah simbol wibawa bagi yang mengenakannya. Keris itu hanya simbol pride bagi yang memakainya. Kalau saya tidak berwibawa mengenakan keris itu, tidak bertambah rasa bangganya, maka saya akan menganggap keris yang saya gunakan itu hanyalah sebuah besi rongsokan saja," jelas Kanjeng Sultan menegaskan prinsip hidupnya dalam berhubungan dengan keris. "Saya tidak boleh musyrik karena keris. Saya tetap pada iman saya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah SWT," tandas beliau, sambil membumbui dengan cerita mengenai seorang presiden yang datang bertanya kepada beliau dan kemudian ditegurnya karena sudah menjadi musyrik terhadap sebuah keris bernama Kolomunyeng, keris peninggalan Wali Allah, Sunan Ampel. Baru kali inilah saya mendengar langsung visi ketuhanan dari Sri Sultan. Maka, tidak salah bila Kanjeng Sultan disebut dengan jabatan Sayidin Panotogomo Kalifatullah. Raja yang mengatur agama (Islam) yang juga sebagai ”penggembala” dari ajaran Allah yang bertugas ”mengangon” umat. Nama beliau selengkapnya adalah: Ngerso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrakhman Sayidin Panotogomo Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping X Ing Ngayogyokarto Hadiningrat. Ketika pamitan, Kanjeng Sultan memberikan undangan kepada saya untuk bisa hadir dalam syukuran pernikahan putri beliau GRAY Purbodoningrat Nurkamnari Dewi, yang hajatannya akan diselenggarakan pada Jumat (9/5) mendatang di Yogjakarta. Insya Allah, saya akan menghadiri perhelatan pernikahan akbar tersebut. Pembaca yang saya hormati. Silakan meneruskan bacaan koran Tribun Kaltim. Bila ada masalah dengan ketidaknyamanan dalam menikmati informasi yang kami sajikan, mohon jangan sungkan-sungkan untuk menelepon kami. Petugas costumer service kami akan segera menyampaikan segala keluhan pembaca, kepada para staf pimpinan kami, agar kami segera dapat memberikan layanan terbaik bagi Anda. Kami berharap kiranya para pembaca selalu berhati-hati dalam menjaga keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga, tidak tergelincir dalam perbuatan yang menyekutukan Tuhan. Naudubillaahi min dzalik. Salam. |
|
|





























