|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 1 hour, 37 minutes ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Selebriti |
| Senin, 18-02-2008 | 04:00:00 | |
|
SELAMAT hari Senin. Semoga seluruh pembaca Tribun Kaltim mengawali hari di awal pekan ini dengan penuh kebahagiaan. Namun, mohon diingat, janganlah kita menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan diri kita. Karena sesungguhnya kita sendirilah penentu utama kebahagiaan yang kita idam-idamkan tersebut.
Pembaca yang saya hormati. Saya mengamati, belakangan ini ada kesadaran yang makin menguat di tingkat pengambil keputusan pada jajaran pengurus pusat partai politik di Indonesia, bahwa tiingkat ketokohan seseorang itu harus ditentukan melalui standar ukuran yang akurat. Akurat, maknanya bahwa ketokohan sesorang itu bukan lagi didasarkan atas klaim-klaim pribadi yang umumnya bersifat subyektif. Misalnya dengan menyatakan ”saya ini tokoh terkenal di kabupaten ini, di kota ini, di provinsi ini, dengan begitu saya pasti akan memenangkan pilkada.” Klaim seperti itu akan dinilai realistis bila ketokohannya itu bisa dibuktikan atas dasar hasil survei dengan metodologi ilmiah. Ketentuan kalangan politisi ini mencuat , memang berkaitan dengan terus maraknya pencalonan tokoh, baik di level daerah maupun pusat, sehubungan dengan pagelaran pesta demorasi untuk memilih kepala daerah, dalam paket pilkada. Juga, karena parpol sudah banyak belajar, bahwa penunjukkan seorang tokoh oleh parpol, acap kali tidak sesuai dengan kepentingan dan keinginan parpol. Sehingga seorang tokoh yang digadang-gadang, ternyata kalah dari calon pesaingnya dalam sebuah pilkda. Fakta itu juga memberi petunjuk bahwa, pertama, mekanisme seleksi calon kepala daerah di tingkat parpol seperti konvensi atau model seleksi lainnya, nampaknya perlu disempurkan dengan parameter-parameter yang lebih akurat, dan tidak cukup hanya dengan mengandalkan pada pendekatan fit and proper test, uji visi dan misi. Kedua, calon yang akan menggunakan kendaraan parpol, tidak melulu hanya diukur dari kemampuan dia untuk memberikan kontribusi finansial atau besarnya kapital yang dipertaruhkan dalam sebuah pertarungan pilkda yang –kita sama-sama tahu—membutuhkan dana yang sangat besar. Ketiga, makin disadari bahwa parpol tidak mutlak menjadi penentu utama terkait besarnya perolehan suara pemilih dalam sebuah pilkda. Dengan demikian, fungsi parpol semakin menyempit, lebih sebagai “pintu masuk” sesuai yang diamanatkan oleh undang-undang. Keempat, harus disadari bahwa pada akhirnya, menang-kalahnya seorang calon kepala daerah dalam ajang pilkda, betul-betul sangat tergantung kepada kehendak rakyat pemilih yang kian hari mencerminkan karakteristik yang kian cerdas dan kritis. Pembaca yang saya muliakan. Suatu hari saya ketemu dan ngobrol di suatu tempat di Kalimantan Timur, dengan Effendi Ghazali “Penasehat Republik Mimpi” acara parodi di Metro TV. Effendi adalah junior saya ketika kuliah strata-1 di UI. Maka, ia pun selalu memperkenalkan kepada teman-teman saya, “Ini lho, Mas Uki, senior saya.” Tetapi sesungguhnya untuk urusan teori, terutama untuk teori komunikasi politik, saya selalu belajar pada doktor ilmu komunikasi jebolan Amerika Serikat ini. Dalam konteks pilkda tersebut Effendi Ghazali punya pendekatan bahwa masyarakat Indonesia saat ini --kecenderungan secara umum-- memiliki karakterisitik yang ia sebut dengan istilah C-3, yaitu Consumerism, Celebrity, Cynicisme. Masih menurut Effendi, mediamassalah yang menjalankan peran utama dalam pembentukan C-3 pada masyakarat kita. Saya tertarik dengan “teori” Effendi Ghazali tentang selebriti tersebut. Itu maknanya, bahwa seorang tokoh, seorang calon pemimpin daerah yang ingin memenangkan pertarungan dalam pilkda, untuk menjadi tokoh, untuk menjadi terkenal, untuk menjadi yang terpopuler, haruslah menjadi selebriti. Selebriti, selain dengan atribut-atribut gaya hidup yang melekat padanya, ia sendiri pastilah orang yang terkenal, orang yang sering diberitakan, tokoh yang wajahnya dinanti-nantikan kemunculannya di media massa, dengan penampilan yang serba glamournya. Begitulah ukuran-ukuran standar yang dikehendaki masyarakat Indonesia saat ini terhadap seorang tokoh. Sehingga, harus diakui bahwa selebriti saat ini bukan saja terbatas pada artis, tapi sudah melebar ke banyak profesi. Terkesan ”gebyah uyah” (generalisasi), namun kenyataannya memang begitu adanya. Sehingga, ada bupati yang selebriti, walikota yang selebriti, gubernur yang selebriti, pemimpin, tokoh, politikus, pengacara, polisi, ulama yang selebriti. Itulah pintu masuk untuk menjadi tokoh dan pemimpin yang ingin populer di mata masyarakat. Dan, rakyat pada kenyataannya memang semakin cerdas semakin kritis, semakin mass media oriented, sehingga sangat menyukai tokoh yang bergayahidup selebriti, termasuk dalam memilih tokoh dan pemimpinnya. Yaitu, tokoh dan pemimpin yang populer yang sering muncul di televisi dan koran, yang bargaya hidup selebriti. Pembaca yang saya hormati. Selamat menikmati berita-berita sajian Tribun Kaltim. Terutama berita-berita dalam rubrik seleb life style dan gosipi. Kami berharap, dari berita-berita itu, siapa tahu bisa menjadi inspirasi, khususnya bagi yang ingin menggapai popularitas diri, untuk tujuan apapun. Salam. |
|
|




























