BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
Pilkada Kaltim
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
16-Mei-2008 / 15:38 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9330.00 9230.00
SGD 6817.05 6719.05
HKD 1196.95 1182.25
GBP 18216.15 17965.15
AUD 8849.80 8717.80
JPY 89.71 88.04
EUR 14483.20 14300.20
SAR 2496.55 2452.55
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Sogok dan Suap
Jumat, 11-04-2008 | 04:00:00
SELAMAT hari Jumat. Setiap khotib Jumat mengawali kalimatnya dengan "ushikum wa iyaya bit taqwalloh… " yang artinya; "saya menasihatkan kepada para jamaah dan diri saya sendiri untuk meningkatkan takwa kepada Allah."

Di hari Jumat yang penuh barokah ini, marilah kita tingkatkan kedekatan kita kepada Sang Khalik, lewat berbagai aktivitas kehidupan kita masing-masing. Dan, Tuhan itu Maha Suci, maka kita hanya bisa dekat (taqwa) dengan Allah, manakala perbuatan kita juga suci.

Pembaca yang saya hormati. Sebagai pimpinan di Tribun Kaltim, saya selalu menekankan kepada wartawan saya, untuk bekerja secara profesional. Salah satu ciri profesionalitas -- dalam pekerjaan wartawan --  adalah menjaga independensi. Karena harus independen, maka wartawan Tribun tidak boleh menerima pemberian dalam bentuk apapun ketika menjalankan tugasnya.

Alhamdulillah, so far, hingga lima tahun Tribun Kaltim hadir di tengah masyarakat pembaca di provinsi ini, wartawan kami dikenal sebagai bebas "amplop." Artinya, wartawan Tribun, sejauh ini  tidak menerima pemberian uang yang biasanya dimasukkan ke dalam amplop oleh seorang nara sumber. Umumnya, sogok model ini  bertujuan agar sang wartawan menulis beritanya sesuai dengan kepentingan sang pemberi amplop.

Memang, saya selalu mewanti-wanti kepada  para wartawan Tribun: "Sekali-kali jangan terima amplop. Janganlah kalian makan dari hasil suap dan sogok. Itu tidak berkah. Jangan kalian menyampaikan kebenaran -lewat tulisan/berita-sementara pada saat yang sama kalian memakan sesuatu yang haram."

Kisah tentang wartawan Tribun yang dikenal bebas "amplop" inilah yang kemarin saya sampaikan kepada Ketua MPR-RI,  Dr Hidayat Nurwahid, ketika beliau berkunjung ke kantor Tribun Kaltim di Balikpapan. Cerita ini saya sampaikan kepada beliau karena, beliau sudah mendengar sebelumnya, tentang sisi positif dari wartawan Tribun dalam hal "tidak bisa disogok". Nampaknya beliau sedang melakukan cross-check.

Kisah ini saya sampaikan kepada beliau dalam bahasa Arab, karena kebetulan ada wartawan kami yang mengajukan pertanyaan menyangkut isu yang sedang hangat, berkaitan dengan kasus angota DPR-RI, Al Amin Nasution, yang tertangkap basah oleh tim KPK, menerima suap.

Dalam hal suap, sogok dan korupsi, Hidayat Nurwahid tegas sikapnya. Beliau sangat anti terhadap perbuatan haram tersebut. Dalam sikap anti korupsi ini kami berdua memang satu perguruan. Kami berdua sama-sama jebolan satu pesantren, dimana kiai kami dulu selalu mewanti-wanti kami untuk hidup bersih. Sebagai Ketua Umum PKS beliau menanamkan sikap bersih itu ke dalam anggota partainya, sedangkan saya menenamkan sikap hidup bersih ini ke dalam lingkungan karyawan saya.

Selama menemani Bapak Hidayat Nurwahid di kantor Tribun, saya memang lebih banyak mengunakan bahasa Arab, ketika ngobrol berdua. Sesekali kami selingi obrolan dengan bahasa Inggris. Dua bahasa inilah yang memberi ciri khas dari alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. Saya dan beliau  memang sama-sama alumni Gontor. Saya nyantri di Gontor selama enam tahun dari tahun 1966 dan selesai tahun 1971. Sedangkan Hidayat Nurwahid menjadi santri Gontor sejak tahun 1973, tiga tahun setelah saya meninggalkan Gontor.

Pertemuan saya dengan Hidayat Nurwahid kemarin, adalah untuk kedua kalinya dalam kurun sebulan terakhir. Tanggal 15 Maret lalu, saya dan beliau serta beberapa teman alumni Gontor se-Indonesia Timur, kumpul dan makan bersama di sebuah empang ikan tawar di kota kecil, Kecamatan Limbung, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dan bila alumni Gontor ngumpul bersama, maka kami selalu menyanyikan lagu kenangan dengan judul  "Ilahilas" gubahan Abu Nawas, sebuah lagu ratapan kepada Tuhan, akan dosa-dosa yang terlalu banyak kami perbuat.

Pembaca Tribun yang saya hormati, silakan menikmati sajian berita-berita dari kami, termasuk berita-berita yang bersifat kontrol sosial. Berita jenis ini perlu kami sajikan, karena salah satu fungsi pers adalah melakukan kontrol terhadap pelaksanaan tata-nilai yang  sedang berlangusng di tengah masyarakat.

Insya Allah, untuk jenis berita seperti ini, kami menyajikannya dalam koridor yang independen. Karena wartawan kami memang kami bentuk untuk tidak tercemar dari tindak sogok dan suap yang pasti hanya akan mencederai independesi.Salam.

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA