|
|
| POLLING : PILGUB KALTIM |
|---|
| Salam Kaltim |
|---|
|
Latest Message: 13 hours, 59 minutes ago
You have to login before you can shout! |
| Pengunjung | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]()
|
| Tribun Kaltim Terkini |
|---|
|
| Spiritualis tanpa Tuhan |
| Senin, 17-12-2007 | 05:00:00 | |
|
SELAMAT hari Senin. Semoga para pembaca memulai hari di awal pekan ini dengan semangat yang tinggi. Yaitu, semangat untuk mencapai suatu tujuan yang sudah dirancang matang sebelumnya. Karena, sesungguhnya hidup dengan tidak memiliki tujuan itu lebih menakutkan dibanding bila kita punya tujuan tapi gagal mencapainya. Saya baru saja dikirimi buku oleh teman saya yang diembel-embeli sebuah note: wajib dibaca. Saya kemudian membacanya karena dari judulnya saja memang sangat menarik: ”Spiritualitas tanpa Tuhan.” Buku ini ditulis oleh André Comte-Sponville. Comte adalah salah satu filsuf terkemuka Prancis saat ini. Ia pernah menjadi profesor filsafat di Universitas Sorbonne, Paris. Penulis menyodorkan pertanyaan kunci, yaitu: bisakah kita hidup tanpa agama? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan? Atau, adakah sesuatu yang disebut "spiritualitas ateis"? Pembaca yang terhormat. Spiritualis memang sedang menjadi tren dunia saat ini. Dalam ukuran tertentu ia sedang menjadi sebuah gelombang dahsyat, sedang menjamur termasuk di Indonesia. Spritualisme seperti sebuah gerakan, sebuah aliran, sebuah isme, sebuah ”agama” baru. Di Indonesia, mereka yang mengikuti aliran ini menyebut dirinya sebagai kaum spiritualis. Di dunia, spiritualisme tersebar dalam titik ekstrem kanan yang masih berinduk pada agama hingga ekstrim kiri yang ateis seperti yang disodorkan oleh Comte. Spiritualisme lahir sebagai reaksi atas persepsi yang mereka bangun, bahwa agama ternyata tidak mampu menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di dunia. Agama-agama di dunia mereka anggap tidak saja telah gagal menjadi pegangan hidup, tapi juga sebagai sumber disharmonisasi. Benarkah? Dua hari lalu, saya bertemu dan ngobrol dengan ketua RT (Rukun Tetangga) rumah saya di Jakarta, yang baru pensiun dari pegawai negeri sipil. Dia juga berbicara panjang lebar mengenai kegiatan terbarunya menekuni kegiatan komunitas barunya. Ia sebut dirinya dan komunitasnya sebagai kegiatan spiritualis. Tapi saya menangkap bahwa kegiatannya tak ubahnya sebagai wujud lain dari Kejawen. Meski begitu, Pak Ketua RT saya itu bersikeras menolak bahwa ”isme” barunya itu Kejawen. Ia menjelaskan komunitasnya berasal dari berbagai latarbelakang agama. Anngota komunitasnya banyak yang ”mengaku” sebagai muslim yang rajin menjalankan ibadah. Dan memang -- sejauh yang saya baca dari berbagai buku tentang spiritualisme -- tata nilai yang mereka hasilkan yang kemudian diyakininya sebagai ”agama baru”, tak lain dari hasil upaya mereka mencomot kearifan-kearifan dari sana-sini. Dari kearifan suku Aztex di Pegunungan Peru, Amerika Latin hingga ke Tibet. Dari kearifan Mesir kuno hingga Sambala, termasuk dicomotnya dari kearifan-kearifan agama-agama samawi. Maka dengan begitu, bagi saya, tidak ada yang salah pada agama. Apalagi bila itu dikaitkan dengan Islam, agama yang saya peluk. Saya juga yakin, penganut agama-agama lain di luar Islam pastilah akan berpendapat yang sama. Yang salah bukan ajarannya, bukan agamanya. Yang salah adalah manusia para pemeluknya. Saya juga yakin, bahwa apa saja yang datang dari Tuhan pastilah mengandung kebenaran seratus persen. Dan apapun yang tidak benar, pastilah datang bukan dari Tuhan. Dalam perpsektif ini, maka apa yang dacari dan ditemukan oleh kaum spiritualis -- utamanya dalam mengolah nilai-nilai luhur dan budi pekerti -- sesungguhnya bukanlah sebuah kebenaran baru. Mereka hanya menghasilkan daur ulang dari kebenaran yang telah Tuhan ajarkan sebelumnya. Pembaca, silakan menikmati sajian berita-berita Tribun Kaltim, koran yang mengusung tagline Independen dan Kredibel. Ini juga sebuah semangat yang datang dari spirit untuk bekerja sesuai etika luhur kewartawanan yang harus selalu berada pada posisi ”tidak dikendalikan oleh satu kelompok atau golongan” (independen) serta berlaku amanah agar memperoleh trust dari para pembaca (kredibel). Salam
|
|
|



























