BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
PON Kaltim
Jadwal PON
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
4-Jul-2008 / 15:40 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9265.00 9165.00
SGD 6816.35 6717.35
HKD 1189.30 1174.60
GBP 18392.95 18138.95
AUD 8933.50 8800.50
JPY 87.13 85.51
EUR 14561.02 14376.02
SAR 2479.45 2435.45
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Prakiraan Cuaca
Jakarta:
24°C
1011mb

8 km/h
Balikpapan:
28°C
1010mb

24 km/h
Samarinda:
28°C
1010mb

24 km/h
Tiga Banding Satu
Jumat, 21-12-2007 | 05:03:01

SELAMAT hari Jumat. Suasana Hari Raya Idul Qurban, akan menjadi lebih bermakna bila kita meningkatkan taqwa kepada Ilahi dengan berburu fakir-miskin. Carilah orang-orang miskin yang cacat fisik, utamanya ibu-ibu yang duafa, yang masih membutuhkan daging kurban. Rasulullah Muhammad SAW mencanangkan hari ini sebagai hari makan dagiing seluruh dunia.

Pembaca yang saya muliakan. Seseorang datang menghadap Nabi Muhammad SAW dan bertanya: ya Rosullullah, siapakah yang harus aku hormati? Rasul bersabda: “ibumu.” Siapa lagi? “Ibumu.” Siapa lagi? “Ibumu.” Lalu siapa lagi? “Ayahmu.”

Luar biasa. Tiga banding satu. Hormat kita kepada ibunda harus tiga kali lipat dibanding hormat kita kepada ayah.

Itulah moral yang diajarkan Nabi Muhammad terhadap bunda. Pantas bila Alloh kemudian menegaskan: “Aljannatu tahta aqdami ummahat.” Surga terletak di bawah telapak kaki ibu.

Saya punya dua orang sahabat yang telah memberi inspirasi bagaimana kita menghormati bunda. Sahabat pertama seorang yang kini hidupnya sangat sukses secara ekonomi dan memiliki derajat yang terhormat di tengah masyarakat. Ia tinggal di Jakarta, menyewa apartemen di bilangan Kuningan Jakarta, yang tarif sewanya perbulan Rp 25 juta. Hidupnya mondar-mandir ke luar negeri untuk mengelola bisnisnya.

Tahun 1985, ketika ia baru memulai mengelola bisnis, ibunya jatuh sakit. Awalnya terdeteksi sebagai kanker getah bening. Namun kemudian menyebar dan menggerogoti  beberapa organ lain tubuhnya.  Sahabatku ini kemudian “tiarap”. Ia hentikan semua aktifitas bisnisnya.

Selama enam bulan, setiap hari,  ia dampingi ibunya, ia berada di sisinya,  mencari pengobatan ke seluruh rumah sakit terbaik di dalam dan luar negeri. Ia juga memberikan penghiburan, diajaknya ibundanya yang sudah hopeless itu, untuk menikmati dunia. Apa saja yang diminta ibunya, diberikan. Uang, baginya tidak masalah. “Yang penting ibu saya bahagia di saat-saat terakhir kehidupannya,” kata sahabatku.

Kullu nafsin dzaikotul maut. Setiap makhluk pasti akan meninggal. Dan,  ajal ibunya pun menjelang. Sahabatku kemudian mengambil air wudlu lalu sholat sunah dua rakaat. Dalam doanya dia menyatakan kepada Tuhan: “Tuhan, aku ikhlaskan amal baik yang aku miliki, seluruhnya aku hadiahkan untuk ibuku. Ya Tuhan ambil semua amal baik yang aku miliki, hingga tak tersisa sama sekali dalam diriku, aku ikhlas menghadiahkan semuanya untuk ibuku tersayang.” Beberapa saat kemudian ibunya pun menghembuskan nafas terakhir.

Sepeninggal ibunya, sahabatku memulai kehidupannya kembali dengan normal, dengan “argometer” nol dari amal baik. Sang ibu, kemudian dijadikannya spirit baru untuk menggapai sukses baru. Kini dia kembali berjaya secara ekonomi. Dia ambil reZeki dunia secukupnya dan sisanya ia gunakan untuk berbuat amal baik.    

“Sampai sekarang, setiap bangun pagi, saya selalu mengirim hadiah Al Fatihah untuk ibunda,” kata sahabatku.

Satu lagi sahabat saya yang menunjukkan cintanya kepada bunda, kini hidup dalam keluarga  yang sakinah wa rohmah. Dulu ketika pertama kali mengucap kata cinta dengan pacaranya (sekarang menjadi istrinya), ia cuma minta satu syarat saja. Dan, syarat itu harus dipatuhi sebagai janji pernikahan diantara dia dan kekasihnya itu.

Ia menceritakan, bahwa ayahnya wafat dengan meninggalkan delapan orang anak, yang masih kecil-kecil, dengan ekonomi yang pas-pasan. Satu anak bahkan masih dalam kandungan enam bulan ketika ayahnya meninggal.  

Kehidupan ibunya penuh derita. Tapi karena semangat bunda, kedelapan anak itu ia besarkan  dengan cinta dan kasih-sayang. Sebelum akhirnya bunda meninggal dunia, kedelapan anaknya telah berhasil dalam pendidikan, semuanya sukses meraih gelar sarjana dari perguruan tinggi ternama.  

“Dik, kalau kamu mau menikah dengan saya. Saya Cuma minta satu syarat saja. Sekali-kali jangan kamu sakiti ibu saya. Bagiku, ibuku adalah segala-galanya,” kata sahabatku menceritakan perjanjian dengan kekasihnya ketika hendak merancang pernikahan.

Kini, sahabatku ini, juga sukses secara ekonomi dan sosial. Ia hidup berkecukupan  dan punya derajat terpandang di mata masyarakat. Menurut pengakuannya, setiap hari, hingga hari ini,  ia tidak pernah lupa berdoa untuk kebahagian  ibunya di alam sana.

Perlakuan kedua sahabat saya itu kepada ibundanya, sama-sama berbasis kayakinan, bahwa: waladun solihun yad-u lahu (anak soleh yang mendoakan orang tua), tidak hanya berdampak positif kepada almarhum dan almarhumah di akherat. Tapi juga berimbas pada ketenteraman jiwa dirinya, yang sekaligus menjadi jalan terang yang diberikan Tuhan dalam perolehan rezeki.

Pembaca, silakan menikmati sajian berita-berita Tribun Kaltim. Namun, bila di saat kita membaca koran, kemudian ibunda kita memanggil atau meminta pertolongan, please, stop dulu membaca korannya. Lalu, segeralah bantu beliau, layani beliau dengan sebaik-baiknya, dengan rasa hormat yang total dan ikhlas.

Mari, hormati ibu kita selagi beliau masih ada. Sungkem sekarang juga, atau kirim Al Fatihah sebagai hadiah untuk bunda, bila beliau telah tiada. Atau berdoalah untuk ibu kita, menurut agama kita masing-masing..

Selamat Hari Ibu, tanggal 22 Desember besok.

Salam.

 

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA