You have to login before you can shout!
JAKARTA - Respon pemerintah yang menganggap Indonesia tidak akan mengalami krisis, kemungkinan menggunakan acuan krisis moneter yang dialami Indonesia pada tahun 1998. Padahal, menurut Hendri Saparini dari Lembaga Riset Ekonomi Econit Advisory Group, kemungkinan krisis yang akan terjadi bersumber dari dalam negeri.
"Bayangkan saja, tahun lalu, harga makanan saja sudah dua kali lipat dari inflasi umum yang 6,6 persen tapi pangan 11,3 persen!" ujar Hendri pada Forum Perspektif INSIDe tentang kondisi Indonesia di ambang frustasi ekonomi politik, di Jakarta, Kamis (8/5).
Selain itu, dari hasil survei, inflasi yang dihadapi orang miskin di Indonesia besarnya dua kali lipat dari inflasi yang dialami rata-rata inflasi secara nasional. "Misalnya kalau beras kita bisa beli per 20 kg maka rakyat miskin hanya bisa beli per 1 kg yang tentu lebih mahal harganya," tambah Hendri.
Hendri menganggap sebenarnya kemungkinan krisis yang dapat dihadapi pada tahun ini mudah untuk diprediksikan sebelumnya, melihat kondisi perekonomian dunia yang mengalami perlambatan dan strategi ekspor yang tidak tepat. "Lima puluh persen ekspor kita itu hanya ditujukan kepada lima negara yang celakanya pada tahun 2008 mengalami resesi, artinya dari sisi ekspor dan investasi kita tidak dapat berharap. Namun pemerintah masih optimis, ini akan tumbuh menjadi 6.8," ujar Hendri. (kompas.com)
Created by IT Tribun Kaltim
Powered by JOOMLA