BERITA UTAMA
Headlines Cetak
Tribun Kaltim Terkini
Nasional
Manca Negara
Ekonomi & Bisnis
Olahraga
Hiburan
Iptek & Sains
Kesehatan
Opini
Lipsus
Selamat Pagi
Tajuk
PON Kaltim
Jadwal PON
BERITA DAERAH
Balikpapan
Samarinda
Kukar
Bontang
Kutim
Tarakan
Kubar
PPU
Grogot
KURS IDR BANK BCA
4-Jul-2008 / 15:40 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9265.00 9165.00
SGD 6816.35 6717.35
HKD 1189.30 1174.60
GBP 18392.95 18138.95
AUD 8933.50 8800.50
JPY 87.13 85.51
EUR 14561.02 14376.02
SAR 2479.45 2435.45
Berita populer
arsip berita
Login Form





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Sindikasi
Prakiraan Cuaca
Jakarta:
24°C
1011mb

8 km/h
Balikpapan:
28°C
1010mb

24 km/h
Samarinda:
28°C
1010mb

24 km/h
12 Buruh Melarikan Diri ke Tarakan
Kamis, 17-04-2008 | 05:15:25

TARAKAN, TRIBUN- Sebanyak 12 orang yang bekerja sebagai buruh pembersih lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Sebuku Nunukan, melarikan diri ke Tarakan. Mereka secara diam-diam meninggalkan pekerjaan karena penghasilan yang didapatnya sangat minim. Para pekerja yang semuanya berasal dari Madiun itu, bahkan belum sempat menikmati upah yang dijanjikan majikannya. Kini mereka bermaksud pulang kampung, namun tidak lagi memiliki uang untuk ongkos perjalanan.

Pada tanggal 25 Maret lalu, mereka dibawa dari Madiun ke Nunukan untuk bekerja sebagai buruh borongan. Mereka dipekerjakan untuk membersihkan ilalang pada lahan yang akan digunakan untuk perkebunan sawit. Kesepakatan dengan majikan, dari setiap hektare lahan yang dibersihkan para buruh itu mendapat upah 230.000. Upah itu akan dibayarkan kepada mereka setiap membersihkan lahan seluas 26 hektare.

Setelah hampir tiga minggu bekerja, para buruh ini sudah membersihkan lahan seluas kurang lebih 22 hektare. Namun keinginannya untuk terus bekerja mereka urungkan. Pasalnya, upah yang akan mereka terima ternyata sangat kecil setelah dipotong uang makan dan potongan gaji sepuluh persen. Karena keinginannya agar pemilik kebun menaikkan upah tidak disetujui, mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan.

"Selain dipotong uang makan, masih ada potongan upah sepuluh persen. Setelah dihitung-hitung, pendapatan kami malah minus. Kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan," jelas salah satu pekerja, Rabu (16/4).

 Para pekerja ini meminta kepada majikannya untuk menaikan upah menjadi Rp 400.000 dari setiap hektare lahan yang dibersihkan. Namun usulan itu tidak disetujui oleh majikannya. Pada Minggu (13/4) malam lalu, melalui perjalanan darat mereka memutuskan meninggalkan Sebuku menuju Kabupaten Malinau. Karena tidak memiliki uang, mereka menempuh perjalanan dengan jalan kaki dan menumpang kendaraan yang kebetulan berpapasan di perjalanan. Setibanya di Malinau para pekerja ini melanjutkan perjalanan ke Tarakan dengan menggunakan kapal speed. Untuk bisa sampai ke Tarakan, mereka terpaksa harus menjual enam buah handphone (HP) untuk ongkos naik kapal speed. Mereka tiba di Tarakan pada Senin (14/4) malam. Setelah melapor ke Polres dan Pemkot, untuk sementara para pekerja itu ditampung di Kantor Satpol PP Tarakan.

Menurut Kasi Penertiban dan Penyidikan Satpol PP, Dison, mereka untuk sementara akan ditampung di Satpol PP sambil menunggu solusi. Untuk mengatasi persoalan yang dihadapi para pekerja tersebut, Satpol PP telah berkoordinasi dengan Paguyuban Keluarga Jawa (Pakuaja).

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pakuja. Untuk sementara mereka kami tampung dulu di Satpol PP. Belum ada solusi. Kemarin ada keinginan Pakuja untuk mempekerjakan mereka mungkin sekitar satu bulan di Tarakan," ujar Dison.

Sementara itu solusi dari Pemkot untuk mengatasi persoalan ini juga belum ada. Menurutnya hingga kemarin Pemkot masih mencari solusi terbaik untuk mengatasi persoalan yang dihadapi para pekerja tersebut.

Trauma Bekerja di Kaltim

PUPUS sudah impian Suyanto, 28, untuk memperbaiki nasibnya dengan bekerja sebagai buruh pembersih ilalang di Sebuku Nunukan. Penghasilannya yang tak seberapa sebagai buruh tani di Madiun, mendorong Suyanto untuk berangkat ke Nunukan bersama sebelas temannya.

Tadinya ia berharap dengan menerima tawaran bekerja di Nunukan, penghasilannya akan bertambah. Namun kenyataan yang dihadapinya justru bertolak belakang. Suyanto dan rekan-rekannya kini harus pulang dengan tangan hampa.

Kalimantan Timur yang dikenal sebagai daerah yang menjanjikan bagi perantau, hanya menyisakan trauma di benak Suyanto. Harapannya untuk mengadu nasib di Kalimantan pun telah sirna. Saat ini ia hanya berharap ada pihak yang mau menolong untuk memulangkan dirinya ke Madiun. "Saya sudah trauma. Sekarang saya hanya ingin bagaimana bisa pulang ke Madiun," ujarnya.

Pekerjaan membersihkan ilalang yang dijanjikan majikan, ternyata tidak seperti yang dibayangkan Suyanto. Selain lahan banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, peralatan yang digunakan juga sangat minim. Untuk mengejar target menyelesaikan pekerjaan, ia dan teman-temannya pun harus rela kerja ekstra. Setiap harinya ia harus bekerja mulai jam tujuh pagi hingga lima sore.

"Awalnya dikasih tahu lahan itu hanya ditumbuhi ilalang. Tapi lahan itu ternyata banyak ditumbuhi pohon-pohon cukup besar. Sedangkan kami alat yang kami gunakan hanya parang," ujarnya.

Tak tahan dengan beratnya pekerjaan dan upah yang minim, melarikan diri akhirnya menjadi pilihan terakhir bagi suyanto dan teman-temannya. Untuk bisa sampai ke Tarakan, ia dan teman-temannya harus rela menjual handphone dengan harga yang murah. Enam handphone milik Suyanto dan teman- temannya hanya dijual seharga dua juta rupiah. Uang itu telah habis mereka gunakan untuk biaya makan dan ongkos perjalanan naik kapal dari Malinau ke Tarakan. Kini tak ada lagi harta yang tersisa milik Suyanto, selain beberapa pakaian yang dibawanya dari Madiun. "Handphone itu kami jual di perjalanan. Yang penting ada yang membeli untuk ongkos perjalanan. Malah handphone terakhir hanya ditawar seratus ribu," ujarnya. (bas)

 

 

 

 

 

Created by IT Tribun Kaltim

Powered by JOOMLA